Jakarta (kingymab) – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia menekankan pentingnya kolaborasi dengan Kepolisian Makau (Macau Judiciary Police/MJP), China, sebagai langkah strategis dalam memperkuat upaya kontraterorisme. Pertemuan ini digelar di Sentul, Jawa Barat pada Rabu, 1 April 2026, dan menandai langkah awal yang penting dalam membangun koordinasi bilateral yang berkelanjutan serta memperkuat rasa saling percaya (mutual trust) antara kedua lembaga.
baca juga: Puan Pemerintah Pastikan Keselamatan Warga Pascagempa Sulut
Latar Belakang Kolaborasi Internasional
Kerja sama kontraterorisme internasional menjadi semakin penting di era globalisasi dan mobilitas lintas negara yang tinggi. Ancaman terorisme tidak mengenal batas negara, sehingga koordinasi lintas batas menjadi kunci untuk mencegah terjadinya serangan maupun perekrutan jaringan radikal. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, menghadapi tantangan unik: selain ancaman domestik, Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di luar negeri juga berpotensi menjadi target radikalisasi atau terjebak konflik keamanan internasional.
Direktur Kerja Sama Bilateral BNPT RI, Brigadir Jenderal Polisi Dhani Hernando, menegaskan bahwa pertemuan dengan Kepolisian Makau bukan sekadar formalitas diplomatik. “Pertemuan pertama ini menjadi dasar strategis untuk membina saling percaya, memperdalam pemahaman kelembagaan, dan mengembangkan kerangka kerja yang berkelanjutan bagi koordinasi di bidang kontraterorisme,” ujarnya.
Selain itu, BNPT menekankan pentingnya perlindungan WNI di luar negeri. Saat ini, sekitar 8 ribu WNI tinggal dan bekerja di Makau. Koordinasi dengan pihak kepolisian setempat menjadi krusial untuk menjamin keselamatan warga negara dan memitigasi potensi risiko ekstremisme.
Perlindungan WNI dan Berbagi Praktik Terbaik
Dalam pertemuan tersebut, BNPT dan Kepolisian Makau mendiskusikan langkah-langkah konkret untuk melindungi WNI. Salah satunya adalah pertukaran praktik terbaik mengenai deteksi dini terhadap potensi radikalisasi. Kedua lembaga sepakat untuk saling berbagi informasi intelijen, prosedur evakuasi, dan mitigasi risiko yang efektif.
“Dengan kolaborasi ini, kita dapat meningkatkan perlindungan bagi WNI yang tinggal di luar negeri, sekaligus berbagi pengalaman dan strategi untuk mencegah munculnya ekstremisme,” kata Dhani.
Apresiasi dari Kepolisian Makau
Ketua Delegasi Makau sekaligus Deputy Director MJP, Lai Man Vai, menyampaikan apresiasi atas sambutan pihak Indonesia. Ia menekankan meskipun terdapat perbedaan budaya dan struktur populasi, kedua pihak memiliki tujuan yang sama, yakni melindungi warga negaranya dari ancaman terorisme.
“Kita memiliki perbedaan dalam budaya dan struktur populasi, tetapi tujuan kita sama, yaitu melindungi warga negara,” ujarnya. Ia berharap kerja sama ini dapat terus berkembang menjadi contoh hubungan bilateral yang efektif dalam menangani ancaman ekstremisme.
Fokus pada Pencegahan Radikalisasi dan Ekstremisme Kekerasan
Selain perlindungan warga negara, pertemuan ini membahas strategi pencegahan radikalisasi dan ekstremisme kekerasan. Kedua pihak sepakat mengembangkan kapasitas melalui pelatihan bersama, pertukaran pengalaman, dan program deradikalisasi yang efektif.
Indonesia dikenal memiliki pendekatan deradikalisasi yang menekankan keseimbangan antara keamanan dan rehabilitasi sosial. Program ini meliputi pendidikan agama yang moderat, pelatihan keterampilan kerja, konseling psikologis, serta pendampingan sosial bagi mantan narapidana terorisme agar dapat reintegrasi ke masyarakat secara produktif.
BNPT juga menekankan bahwa rehabilitasi sosial menjadi langkah preventif penting. Dengan memberikan pendidikan dan keterampilan, mantan pelaku radikalisasi memiliki kesempatan untuk membangun kehidupan baru yang positif, sehingga potensi untuk kembali ke jaringan ekstremis dapat diminimalkan.
Kunjungan Lapangan ke Lapas Kelas II B Sentul
Sebagai bagian dari kunjungan, delegasi Makau diajak melihat langsung pelaksanaan program deradikalisasi di Lapas Kelas II B Sentul. Program ini menunjukkan bagaimana Indonesia mengombinasikan langkah keamanan dengan upaya rehabilitasi.
Delegasi mengamati proses pembinaan narapidana terorisme yang mencakup pendidikan, keterampilan vokasi, dan konseling psikologis. Hal ini memungkinkan mereka untuk reintegrasi ke masyarakat tanpa stigma negatif, serta mengurangi risiko pengulangan tindak radikalisasi.
Brigjen Dhani menegaskan bahwa pendekatan ini menjadi bagian integral strategi kontraterorisme Indonesia. “Langkah deradikalisasi bukan sekadar tindakan rehabilitasi, tetapi bagian dari upaya preventif berkelanjutan untuk mengurangi ancaman terorisme,” ujarnya.
Statistik dan Tantangan Global
Menurut data terbaru dari Global Terrorism Index (GTI), pada 2025 terjadi peningkatan 5 persen insiden terorisme global dibandingkan tahun sebelumnya. Ancaman paling signifikan muncul di wilayah Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Selatan.
Indonesia sendiri telah menghadapi berbagai kasus terorisme sejak awal 2000-an, termasuk serangan di Bali pada 2002 dan 2005. Upaya kontraterorisme domestik berhasil menekan aktivitas jaringan teror, tetapi ancaman lintas negara tetap ada, terutama terkait perekrutan dan pendanaan dari luar negeri.
Dengan kondisi global yang semakin kompleks, kerja sama internasional seperti dengan Kepolisian Makau menjadi krusial. Kolaborasi ini memungkinkan pertukaran intelijen, pelatihan aparat, serta penanganan ancaman sebelum berkembang menjadi insiden besar.
Manfaat Kolaborasi Internasional
Kerja sama BNPT RI dengan Kepolisian Makau memiliki manfaat jangka panjang. Pertama, memperkuat kapasitas aparat untuk mendeteksi dan merespons ancaman secara cepat. Kedua, meningkatkan perlindungan bagi WNI di luar negeri. Ketiga, membuka peluang untuk berbagi praktik terbaik dan pengalaman internasional yang bisa diterapkan di Indonesia.
Selain itu, kerja sama ini juga memperluas jaringan internasional Indonesia dalam upaya kontraterorisme. Dengan mengintegrasikan praktik terbaik dari berbagai negara, Indonesia dapat meningkatkan efektivitas program deradikalisasi dan pencegahan radikalisasi.
Kesimpulan
Pertemuan BNPT RI dengan Kepolisian Makau menandai langkah awal yang strategis dalam membangun kerangka kerja kontraterorisme yang berkelanjutan. Melalui kerja sama ini, Indonesia tidak hanya melindungi warganya di luar negeri, tetapi juga memperkuat kapasitas aparat, berbagi praktik terbaik, dan mengembangkan strategi deradikalisasi yang efektif.
Kombinasi antara koordinasi bilateral, pencegahan radikalisasi, pelatihan kapasitas, dan program rehabilitasi menjadi fondasi kuat untuk menghadapi ancaman terorisme secara komprehensif. Dengan kolaborasi yang terus dikembangkan, BNPT dan Kepolisian Makau diharapkan mampu menciptakan model kerja sama internasional yang efektif, melindungi warga negara, memperkuat keamanan regional, dan mendukung perdamaian global.
baca juga: Diplomasi Anabul Prabowo Bikin Presiden Korsel Terbahak




Leave a Reply