kingymab.org – Indonesia mencatat hasil besar pada cabang renang Islamic Solidarity Games 2025 di Riyadh. Seluruh perenang yang tampil berhasil membawa pulang medali. Raihan ini memberi optimisme jelang SEA Games 2025 di Thailand bulan depan.
Delapan atlet turun dalam ajang tersebut. Mereka adalah Joe Aditya Wijaya Kurniawan, Muhammad Dwiky Raharjo, Farrel Armandio Tangkas, Jason Donovan Yusuf, Adellia, Nadia Aisha Nurazmi, Azzahra Permatahani, dan Flairene Candrea. Adellia menjadi penyumbang medali terbanyak lewat satu emas, dua perak, dan satu perunggu. Emas datang dari nomor Women’s Breaststroke 200m. Dua perak diraih pada Women’s 4x100m Medley Relay dan Women’s 100m Breaststroke. Satu perunggu hadir pada Women’s 4x100m Freestyle Relay bersama Nadia, Azzahra, dan Candrea.
Keberhasilan menyapu medali memperlihatkan peningkatan pembinaan renang nasional. Indonesia sebelumnya juga menunjukkan tren positif di kejuaraan regional sepanjang 2024 hingga awal 2025. Hasil ini menunjukkan konsistensi performa menuju ajang multievent terbesar Asia Tenggara.
Direktur tim Indonesia, Richard Sam Bera, menilai performa di ISG sangat menjanjikan. Ia menjelaskan bahwa para atlet belum mencapai puncak performa namun tetap mampu tampil efektif. Ia menyebut pencapaian ini sebagai momentum penting untuk menjaga kepercayaan diri tim renang.
Raihan medali penuh di ISG 2025 menjadi dorongan besar jelang SEA Games Thailand. Tim pelatih menargetkan peningkatan catatan waktu pada uji coba akhir bulan ini. Indonesia berharap mampu meningkatkan perolehan medali renang dibanding edisi sebelumnya.
Baca Juga: “Helikopter AS Jatuh di Laut Cina Selatan, Semua Kru Selamat“
Atlet Akuatik Indonesia Siap Optimalkan Pengalaman ISG 2025 untuk Raih Emas SEA Games 2025
Atlet akuatik Indonesia memanfaatkan pengalaman di ISG 2025 Riyadh sebagai persiapan kunci menghadapi SEA Games 2025 di Thailand. Tim meraih empat emas di Riyadh, salah satunya disumbang oleh Adellia, yang kini fokus meningkatkan performa. Pelatih Richard menilai hasil tersebut sebagai modal penting sekaligus bahan evaluasi. Lawan yang tangguh di Riyadh menambah pengalaman kompetisi dan strategi atlet. “Jadi kita perlu apresiasi itu, tapi juga kita tahu masih ada SEA Games bulan depan,” ujar Richard.
Adellia mengakui perjuangan fisik selama ISG 2025 sangat berat. Perjalanan dari kampung atlet ke venue mencapai 1 jam 45 menit satu arah, membuat istirahat terbatas. Tim baru kembali dari Jepang, namun tetap berjuang maksimal dalam lomba. “Perjuangan di Saudi sangat berat. Pulang-pergi itu sangat jauh, tapi kita tetap berjuang,” tegas Adellia.
Meski berhasil meraih emas, Adellia menegaskan tidak boleh berpuas diri. Evaluasi dari pelatih menjadi fokus utama untuk menyiapkan strategi baru menghadapi SEA Games. “Kalau dibilang puas, tidak boleh puas sama sekali. Ini awal baik untuk SEA Games. Evaluasinya harus semangat lagi,” jelas Adellia.
Federasi Indonesia menekankan manajemen logistik, recovery, dan peningkatan jam terbang kompetisi sebagai prioritas hingga keberangkatan SEA Games. Dukungan penuh dari pelatih, tim medis, dan fasilitas latihan akan menjadi penentu target medali. Pengalaman kompetisi internasional ini diharapkan membuat atlet lebih matang dan siap menghadapi tekanan di ajang regional berikutnya.
Dengan persiapan matang dan evaluasi berkelanjutan, tim akuatik Indonesia menargetkan perolehan medali lebih tinggi di SEA Games 2025, membuktikan konsistensi prestasi di tingkat Asia Tenggara.
Baca Juga: “Lansia Bukan Beban: Peran Produktif Dorong Pembangunan Sosial“




Leave a Reply