kingymab – Risiko Main HP, Banyak orang terbiasa main HP sambil rebahan sebelum tidur.
Kebiasaan ini tampak santai, tetapi berisiko menambah kelelahan mata.
Dokter Yeni Dwi Lestari, Sp.M(K) dari PERDAMI, menjelaskan penyebab utamanya.
Ia menyebut durasi penggunaan dan pencahayaan kamar lebih bermasalah daripada posisi.
Saat rebahan, jarak pandang sering tidak stabil dan mata harus berakomodasi ekstra.
Pantulan layar dan ruangan redup membuat otot mata bekerja lebih keras.
Dalam praktik klinis, keluhan mata kering dan pandangan kabur sering muncul.
Jika berlangsung lama tanpa jeda, gejala tersebut bisa mempercepat peningkatan minus.
Secara biologis, paparan cahaya biru memengaruhi ritme sirkadian dan kualitas tidur.
Screen time yang panjang juga memicu berkurangnya frekuensi berkedip.
Kurang berkedip meningkatkan risiko mata kering dan iritasi lapisan air mata.
Para ahli mata merekomendasikan aturan 20-20-20 untuk mengurangi ketegangan.
Artinya, tiap 20 menit lihat objek 20 kaki jauhnya selama 20 detik.
“Bukan posisi tidurnya yang bikin rusak tapi karena kita jadi nyaman dan lupa waktu,” ujar Yeni.
Pernyataan ini mendasari pentingnya kontrol durasi dan peningkatan pencahayaan.
Ke depan, pemeriksaan mata rutin dianjurkan untuk pengguna layar berat.
Penerapan jeda teratur, pencahayaan seimbang, dan kacamata antirefleksi membantu pencegahan.
Langkah sederhana ini efektif menjaga kenyamanan mata dan menunda penurunan penglihatan.
Baca Juga: “Robot Berhasil Bantu Transplantasi Jantung Pertama di Dunia“
Risiko Main HP, Pentingnya Kacamata Tepat dan Pengawasan Screen Time untuk Anak
Banyak orang percaya memakai kacamata terus-menerus bisa memperparah minus.
Dokter Yeni Dwi Lestari, Sp.M(K) dari PERDAMI, menegaskan anggapan itu salah.
Menurut Yeni, kacamata dengan ukuran yang sesuai justru membantu mencegah progresivitas minus.
“Kalau kita pakai kacamata sesuai ukuran, itu justru cara mencegah penambahan minus. Perkembangan minus pada anak-anak terjadi karena bola matanya masih tumbuh, bukan karena kacamatanya,” jelasnya.
Selain penggunaan kacamata, durasi menatap layar juga memengaruhi kesehatan mata.
Gadget berlebihan tanpa aktivitas luar ruangan mempercepat pertambahan minus.
Yeni menjelaskan, bola mata memanjang lebih cepat jika screen time tinggi dan jarang terkena cahaya matahari.
Kebiasaan main HP sambil rebahan juga memperburuk kondisi ini.
Dokter mata itu menekankan pengawasan screen time sesuai usia anak.
Untuk anak di bawah lima tahun, sebaiknya tidak diperkenalkan gadget sama sekali.
Sementara usia sekolah enam hingga tujuh tahun, maksimal dua jam penggunaan layar per hari.
Penerapan aturan ini membantu mencegah kelelahan mata dan memperlambat perkembangan minus.
Yeni juga mendorong penerapan kampanye 20-20-20 rule bagi semua pengguna gadget.
Setiap 20 menit menatap layar, lihat objek hijau dari jarak enam meter selama 20 detik.
Praktik rutin ini efektif mengurangi ketegangan mata dan meminimalkan risiko gangguan penglihatan jangka panjang.
Ke depan, kombinasi kacamata yang tepat, pengawasan screen time, dan aktivitas di luar ruangan
menjadi strategi utama menjaga kesehatan mata anak-anak di era digital yang serba layar.
Baca Juga: “Stroke: Gejala, Penyebab, dan Cara Pencegahannya“




Leave a Reply