kingymab.org – Topan Kalmaegi menyebabkan kerusakan parah di Asia Tenggara setelah menghantam Filipina dan Vietnam. Sedikitnya 193 orang dilaporkan meninggal, sedangkan ratusan ribu penduduk kehilangan tempat tinggal. Badai kini bergerak menuju Kamboja dan Laos dengan potensi cuaca ekstrem.
Kalmaegi menerjang wilayah tengah Vietnam pada Kamis malam. Angin maksimum mencapai 149 km per jam dan menghancurkan permukiman padat penduduk. Pada Jumat pagi, puing-puing bangunan menumpuk di sepanjang pesisir. Banyak pohon tumbang menutup jalan. Atap rumah beterbangan akibat hembusan angin kuat.
Ribuan warga mengungsi ke sekolah dan gedung pemerintah. Militer Vietnam membantu evakuasi serta pembersihan material runtuh. Pemerintah melaporkan hujan ekstrem selama sepekan telah memicu banjir besar. Sebelum badai datang, Vietnam mengerahkan lebih dari 260.000 personel militer. Negara juga menyiapkan 6.700 kendaraan dan enam pesawat untuk operasi penyelamatan. Bandara ditutup. Jalan tol dihentikan sementara. Ratusan ribu warga dipindahkan ke zona aman.
Kondisi di lapangan menunjukkan kehancuran berat. Banyak rumah roboh dan terendam banjir. Listrik padam di beberapa daerah karena jaringan rusak. Puluhan desa dinyatakan terisolasi akibat akses yang terputus oleh banjir.
Penduduk tersebut kehilangan rumah akibat angin yang merobohkan bangunan.
Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh memimpin rapat darurat untuk menyusun langkah cepat. Ia menegaskan bahwa bantuan makanan dan air bersih harus segera diberikan.
Kalmaegi diperkirakan mencapai Kamboja dalam waktu dekat. Lembaga meteorologi setempat memperingatkan potensi hujan deras dan banjir bandang. Negara di jalur badai diimbau meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko korban dan kerusakan lanjutan.
Baca Juga: “Helikopter AS Jatuh di Laut Cina Selatan, Semua Kru Selamat“
Kerusakan Parah di Filipina Sebelum Topan Kalmaegi Bergerak ke Vietnam
Sebelum melanda Vietnam, Topan Kalmaegi—disebut Tino di Filipina—lebih dulu menghantam wilayah tengah Filipina. Dampaknya sangat besar, menyebabkan longsor, banjir bandang, dan korban jiwa dalam jumlah tinggi.
Curah hujan setara satu bulan turun hanya dalam 24 jam. Banjir bandang terjadi di berbagai daerah. Pulau Cebu menjadi lokasi yang mengalami kerusakan terberat. Air deras menyeret mobil dan menghancurkan rumah warga. Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal. Pemerintah mencatat 188 orang meninggal dan 135 lainnya masih hilang. Puluhan ribu warga mengungsi ke sekolah dan pusat evakuasi. Tim penyelamat menghadapi hambatan karena akses jalan terputus. Beberapa desa terisolasi akibat jaringan listrik dan komunikasi terputus.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengumumkan keadaan darurat nasional. Keputusan ini diterapkan karena tingginya jumlah korban dan kerusakan infrastruktur. Pemerintah mengalokasikan dana bantuan untuk daerah terdampak. Layanan kesehatan darurat diterjunkan untuk menangani warga yang terluka dan mengalami trauma.
“Kami tidak punya rumah lagi,” kata Mely Saberon, warga Talisay City kepada BBC. Ia melihat rumahnya tersapu arus tanpa sempat menyelamatkan apa pun.
Badan meteorologi Filipina mengingatkan bahwa satu topan baru sedang berkembang di Samudra Pasifik. Topan tersebut berpotensi menghantam Filipina dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah mendesak warga tetap waspada dan memantau peringatan resmi. Upaya pemulihan terus dilakukan, tetapi risiko bencana susulan masih tinggi.
Baca Juga: “Lansia Bukan Beban: Peran Produktif Dorong Pembangunan Sosial“




Leave a Reply