kingymab – Presiden Donald Trump memperingatkan Amerika Serikat bisa bertindak jika kekerasan internal di Gaza tidak dihentikan. Pernyataan itu disampaikan Kamis (16/10/2025), setelah gencatan senjata dan pembebasan sandera antara Israel dan Hamas.
Trump menegaskan, pihaknya tidak akan mengirim pasukan ke Gaza. Namun, pihak lain yang dekat dengan wilayah itu mungkin akan bertindak cepat. “Itu tidak akan dilakukan oleh kami. Ada pihak yang sangat dekat — sangat berdekatan — yang akan masuk dan menyelesaikannya dengan mudah, namun tetap di bawah pengawasan kami,” kata Trump kepada wartawan, dilaporkan Associated Press.
Sebelumnya, pada Selasa (14/10), Trump menyebut Hamas telah menyingkirkan beberapa geng berbahaya. Ia juga mengaku tidak terlalu terganggu oleh hal itu. Meski begitu, Trump menegaskan kesabarannya terbatas terhadap pembunuhan faksi saingan di Gaza. “Mereka akan dilucuti senjatanya. Jika tidak, kami yang akan melakukannya dengan cepat dan mungkin dengan kekerasan,” ujarnya.
Para pakar menilai, ancaman Trump menegaskan posisi Amerika Serikat dalam menjaga stabilitas Timur Tengah. Namun, AS berupaya menghindari keterlibatan langsung pasukan darat. Ketegangan Gaza tetap berisiko memengaruhi keamanan regional, perdagangan energi, dan hubungan diplomatik dengan sekutu.
Meskipun Trump tidak merinci langkah berikutnya, pernyataannya menimbulkan pertanyaan soal peran AS dalam mengawasi konflik. Situasi ini tetap menjadi sorotan internasional terkait keamanan sipil dan hak asasi manusia.
Baca Juga: “Bitcoin Bisa Dipakai Bayar Kopi di Washington D.C.“
Donald Trump: Kekosongan Keamanan di Gaza Dipicu Serangan Israel dan Aparat Hamas Menghilang
Kepolisian Hamas dulunya menjaga keamanan publik tinggi setelah kelompok itu mengambil alih Gaza 18 tahun lalu. Namun aparat juga menindak keras pihak yang berbeda pendapat, menurut laporan Associated Press.
Dalam beberapa bulan terakhir, banyak anggota aparat keamanan menghilang saat pasukan Israel merebut wilayah Gaza. Serangan udara menargetkan markas dan fasilitas keamanan Hamas, menciptakan kekosongan kendali di lapangan.
Kekosongan ini diisi keluarga lokal berpengaruh dan geng bersenjata. Beberapa faksi anti-Hamas, yang didukung Israel, mulai muncul dan beroperasi. Banyak di antara mereka menjarah bantuan kemanusiaan. Barang-barang itu kemudian dijual untuk keuntungan pribadi, memperparah krisis kelaparan di Gaza.
Para pakar menekankan bahwa situasi ini meningkatkan risiko kekerasan sipil dan menurunkan akses warga terhadap kebutuhan dasar. “Kekosongan keamanan memungkinkan kelompok bersenjata mengambil alih, mengancam stabilitas masyarakat sipil,” kata analis keamanan regional.
Kehadiran faksi-faksi bersenjata ini juga menimbulkan tantangan bagi upaya diplomasi dan bantuan internasional. Organisasi kemanusiaan menghadapi kesulitan mendistribusikan pangan dan obat-obatan. Data PBB menunjukkan lebih dari 70 persen warga Gaza kini membutuhkan bantuan darurat.
Situasi ini memperingatkan bahwa tanpa restorasi keamanan formal, konflik internal dapat terus meningkat. Masa depan Gaza tergantung pada kemampuan Hamas, aktor lokal, dan komunitas internasional mengendalikan kekerasan dan menstabilkan wilayah.
Baca Juga: “Prabowo Pimpin Ratas Minta Pupuk Berkualitas Optimalisasi DHE“




Leave a Reply