kingymab.org – Penjualan Starbucks di Indonesia mengalami penurunan akibat dampak signifikan dari gerakan boikot terhadap kinerja operasional mereka. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan menyampaikan bahwa sebanyak 11 gerai Starbucks kembali ditutup pada kuartal I 2025. Penutupan ini melanjutkan tren tahun sebelumnya, ketika jumlah gerai yang ditutup juga mencapai angka yang sama.
“Baca juga : Ricky Gozali Ditunjuk Jadi Deputi Gubernur BI 2025-2030”
PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI), pemegang lisensi Starbucks di Indonesia melalui Corporate Secretary MAPI, Eva Andrianie, mengatakan boikot terhadap Starbucks dipicu oleh informasi tidak akurat yang mengaitkan merek tersebut dengan konflik Israel. Padahal, menurutnya, Starbucks tidak memiliki keterlibatan operasional di Israel sejak 2008. “Kami tegaskan, Starbucks tidak memiliki toko, karyawan, ataupun kegiatan operasional di Israel,” ujar Eva, Jumat (4/7/2025).
Boikot ini telah berdampak pada pengurangan jumlah pembukaan gerai baru secara drastis. Jika sebelumnya Starbucks mampu membuka 70–80 toko setiap tahun, kini ekspansi dibatasi hanya 10–15 toko per tahun. Selain kerugian bisnis, tekanan sosial juga dirasakan oleh sekitar 7.500 karyawan. Eva menyebut, sejumlah anak karyawan mengalami diskriminasi, seperti dikeluarkan dari sekolah hanya karena membawa atribut Starbucks.
Dampak Boikot, MAP Tutup 11 Gerai Starbucks dan Pangkas Ekspansi
“Ini bukan hanya isu bisnis, tapi telah menyentuh sisi kemanusiaan. Kami bahkan menerima laporan adanya perusakan toko dan stigma yang menyebar luas,” tambah Eva. Ia menyesalkan situasi ini mengingat kontribusi besar Starbucks terhadap sektor ekonomi lokal, termasuk dukungan terhadap petani kopi Arabika Indonesia dan mitra rantai pasok.
Meskipun tantangan masih membayangi, MAP tetap berkomitmen melanjutkan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Anggaran belanja modal sebesar Rp2 triliun telah disiapkan tahun ini, meskipun sebagian besar belum digunakan karena performa sektor food & beverage (F&B) belum maksimal. Ekspansi internasional pun masih terbatas.
“Baca juga : Kaki-Kaki Mobil Lawas Lebih Kuat dari Baru, Mitos atau Fakta?”
“Pemulihan sentimen sedang berjalan. Kami terus menyampaikan fakta dan transparansi. Dengan dukungan publik, kami yakin kepercayaan masyarakat bisa kembali pulih,” kata Eva.
MAP menegaskan bahwa fokus pada Penjualan Starbucks ke depan adalah membangun ulang reputasi mereka, memperkuat keterlibatan komunitas lokal, serta memastikan informasi yang beredar tidak merugikan masyarakat maupun pelaku industri.




Leave a Reply